Belakangan ini, saya sering mendengar percakapan yang polanya sama persis.
Di warung kopi, di ruang meeting, di meja makan keluarga, bahkan di grup WhatsApp alumni yang isinya orang-orang yang harusnya sudah "settle". Percakapannya selalu berputar, topiknya berbeda-beda, tapi ujungnya satu: capek.
Bukan capek yang sembuh dengan tidur delapan jam. Bukan capek yang hilang setelah libur panjang. Ini capek yang lebih pelik, semacam kelelahan yang menetap di bawah permukaan, seperti suara dengungan kipas angin yang sudah menyala terlalu lama sampai kita lupa kapan mulainya.
Saya mendengar cerita seorang teman yang resign dari pekerjaannya di Jakarta setelah lima tahun kerja keras, naik jabatan, dan katanya sendiri tidak pernah ngerasa hidup. Saya mendengar keponakan saya yang baru lulus kuliah sudah merasa tertinggal karena teman sebayanya ada yang "sudah punya bisnis" di LinkedIn. Dan suatu malam, saya mendengar cerita dari cermin, malam ketika saya sadar bahwa pekerjaan saya sendiri sudah tidak menyisakan ruang untuk hal-hal yang dulu saya sebut hidup.
Yang mengejutkan? Ini bukan soal anak muda saja.
Ada seorang dokter spesialis, 47 tahun, yang mengaku merasa seperti mesin. Ada kepala divisi di BUMN yang sudah dua tahun tidak ingat terakhir kali benar-benar bersantai tanpa ngerasa bersalah. Ada ibu yang juga freelancer yang bilang hidupnya adalah daftar tugas yang tidak pernah selesai. Hustle culture ternyata tidak mengenal batas usia. Ia seperti air, mengisi ruang apa saja yang tersedia.
Dan semakin saya perhatikan, semakin satu pertanyaan itu terus muncul: sejak kapan kita percaya bahwa sibuk itu sama dengan berarti?
Ini Bukan Barang Baru
Sebelum kita bicara soal algoritma dan LinkedIn flexing, izinkan saya mengajak ke tempat yang lebih jauh.
Tahun 49 Masehi. Roma sedang di puncak kejayaannya. Di tengah hiruk-pikuk kekuasaan dan ambisi, seorang senator bernama Lucius Annaeus Seneca menulis surat kepada sahabatnya:
"Ita fac, mi Lucili: vindica te tibi."
Yang kira-kira berarti, klaim dirimu untuk dirimu sendiri.
Seneca menulis tentang betapa banyak orang di sekitarnya yang sibuk luar biasa, tapi tidak sungguh-sungguh hidup. Ia menyebut hidup bukan pendek karena waktunya sedikit, tapi karena kita menghabiskannya untuk hal yang salah. Dua ribu tahun berlalu. Kalimat itu masih relevan. Hanya nama platformnya yang berbeda.
Lompat ke abad ke-17. Blaise Pascal, matematikawan dan filsuf Prancis, menuliskan sesuatu yang terasa aneh tapi mengena:
"Semua kesengsaraan manusia berasal dari ketidakmampuannya untuk duduk diam dalam sebuah ruangan sendirian."
Pascal tidak sedang bicara soal meditasi. Ia bicara tentang ketakutan akan kesunyian. Bahwa kita mengisi hidup dengan kesibukan bukan selalu karena butuh, tapi karena diam itu menakutkan. Karena diam artinya kita harus berhadapan dengan diri sendiri.
Kemudian di abad ke-19, Max Weber menelisik sesuatu yang lebih mengusik. Dalam bukunya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, ia berargumen bahwa glorifikasi kerja keras bukan sekadar nilai ekonomi, melainkan warisan teologi. Kaum Puritan Protestan percaya produktivitas adalah bukti bahwa Tuhan meridhaimu. Dari sana, kerja keras berevolusi menjadi identitas, bukan sekadar aktivitas.
Kita mewarisi keyakinan itu, bahkan tanpa sadar. Ia sudah menjadi semacam sistem operasi budaya yang berjalan di latar belakang. Makanya terasa aneh, bahkan bersalah, kalau kita tidak sibuk.
Dan kalau kita pikir ini cuma masalah Barat, coba perhatikan filosofi Jawa: sak madyo. Sebuah prinsip yang mengajarkan hidup dalam batas yang cukup, tidak kurang, tidak berlebihan. Bukan kemalasan. Bukan memadamkan ambisi. Tapi sebuah kesadaran bahwa ada titik di mana "lebih" tidak lagi berarti "lebih baik". Nenek moyang kita sudah tahu. Kita yang lupa.
Reza Sang Top Performer
Reza tidak pernah absen. Ia yang pertama datang dan terakhir pulang. Weekend-nya diisi side project, networking, dan course online. Di Instagram ia tampak sibuk dengan cara yang kelihatan glamor, laptop di kafe aesthetic, caption yang terasa penuh tujuan. Di TikTok, konten "day in my life as an Enterpreneur" dan "CEO morning routine" sudah jadi genre tersendiri yang ia ikuti setiap pagi, dan tanpa sadar ia mulai memproduksinya sendiri. Bukan karena pamer, tapi karena lama-lama format itulah yang terasa seperti standar. Kalau hidupmu tidak kelihatan seperti itu, mungkin kamu belum cukup keras berusaha.
Dalam dua tahun ia naik jabatan. Orang-orang di kantornya menyebutnya "yang paling dedikasi". Dan mungkin memang benar.
Tapi ada malam ketika ia cerita dengan nada yang berbeda dari biasanya. Bukan nada bangga. Bukan nada lelah biasa.
"Gue ga inget terakhir kali gue beneran ngerasa senang," katanya. "Bukan bahagia yang di-post di social media, tapi Bahagia beneran."
Ia sudah mencapai banyak hal yang ada di wishlist. Tapi daftar itu tidak pernah habis, setiap item yang dicoret diganti dengan dua item baru.
Aristoteles pernah membedakan dua cara manusia mencari kebahagiaan:
yang pertama adalah mengejar pencapaian demi pencapaian itu sendiri, yang ia sebut hedone.
Yang kedua adalah hidup yang benar-benar mekar, yang ia sebut eudaimonia, di mana tindakan kita terhubung dengan sesuatu yang lebih dari sekadar angka dan jabatan.
Aristoteles bukan anti-ambisi. Ia hanya mencatat bahwa keduanya tidak otomatis sama.
Nadia Resign Tanpa Minta Pendapat Siapapun
Setelah lima tahun sebagai manajer di perusahaan retail, Nadia berhenti. Tanpa backup plan yang solid. Tanpa jabatan baru yang menanti.
Reaksi orang-orang sekitarnya mudah ditebak. Sayang banget, padahal posisinya sudah bagus. Mau ngapain? Itu cuma fase, nanti nyesel.
Nadia kembali ke kampung halaman selama enam bulan. Bantu usaha orang tua. Masak. Olahraga. Baca buku yang sudah lama ditunda. Dan perlahan otaknya bisa berpikir jernih lagi, bisa duduk dalam keheningan tanpa panik.
