Menurut pendapat saya, salah satu simbol yang paling membekas dalam film Pesta Babi bagi saya adalah munculnya salib merah yang dipasang masyarakat adat di wilayah hutan mereka. Simbol itu terasa sangat kuat karena bukan hanya sekadar tanda biasa, tetapi sebagai simbol kepercayaan, dan bentuk perlawanan terakhir masyarakat Papua untuk mempertahankan tanah leluhur mereka. Dimanakah moral, dimanakah HAM, dimanakah keadilan? Di tanah Papua, manusia-nya di anggap tidak punya hak untuk menentukan nasib tanah mereka sendiri.
Dalam konteks film ini, salib merah digunakan oleh masyarakat adat di Papua Selatan, termasuk wilayah Merauke dan sekitarnya, sebagai simbol penolakan terhadap pembukaan lahan dan masuknya proyek besar ke wilayah adat mereka. Salib itu menjadi penanda bahwa tanah tersebut tidak boleh disentuh, sekaligus bentuk seruan bahwa masyarakat adat sedang berada dalam keadaan darurat.
Yang membuat simbol ini terasa menyakitkan adalah karena salib merah bukan dipasang untuk perang atau kekerasan, tetapi untuk mempertahankan kehidupan mereka sendiri. Seolah masyarakat Papua ingin mengatakan bahwa hutan itu bukan sekadar lahan kosong, melainkan rumah, identitas, sejarah leluhur, dan masa depan anak-anak mereka.
Dan yang paling menyakitkan dari film Pesta Babi adalah masyarakat Papua digambarkan seperti harus melawan kekuatan yang terlalu besar (pemerintah mereka sendiri, perusahaan konglomerat, lembaga keamanan negara, alat berat, dan kepentingan ekonomi) untuk mereka hadapi sendiri.
Ironis sekali ekspresi dan ketabahan semua rakyat Papua , ketika berbicara tentang hutan mereka. Terlihat jelas bahwa hutan bukan hanya sumber uang atau aset ekonomi, tetapi bagian hidup mereka. Ketika hutan dihancurkan, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga budaya, sejarah, dan hubungan spiritual mereka dengan tanah leluhur.
