Sore itu, angin berembus kencang, awan hitam menggelayut menyelimuti langit kota. Butir-butir air mulai menetes, lalu mengalir deras tanpa henti.
Seira menyipitkan mata menatap air yang turun dari atap halte, dia baru saja pulang dari kantor dan menunggu bus yang mengarah ke rumahnya.
Hawa dingin merambat, menggigit kulitnya. Seira menggigil, memeluk tubuh. Ia sendirian di sana.
Mata gadis itu setia menatap ke ujung jalan dengan sebuah harapan, ia tak sabar segera sampai di rumah.
Cuaca hujan seperti ini ia paling suka duduk di dekat jendela sambil menulis puisi, tak lupa ditemani secangkir teh hangat. Baginya hujan adalah waktu terbaik untuk berimajinasi.
Entah berapa lama, hujan akhirnya reda, menyisakan rintik-rintik tipis. Namun, busnya belum juga datang.
Seira hanya mengembus napas panjang. Ia mungkin harus naik taksi dan mengabaikan rencana berhemat. Tangannya merogoh tas dan saat hendak dinyalakan, ponselnya mati.
“Ya tuhan, kenapa harus sekarang?” gumam Seira. Dia memasukkan ponsel ke dalam tas dan kembali menunggu.
Di seberang jalan, seorang pria sibuk dengan kamera. Sesekali ia mengusap titik-titik air di lensanya. Ia membidik pada objek yang ingin dipotret dan tak sengaja Seira masuk ke dalam frame.
Melihat hasilnya, Ansel tersenyum kecil. Ia berniat memotret pantulan lampu jalan pada genangan, tetapi gadis itu ikut tertangkap. Fotonya estetik, tetapi ia merasa tak enak karena mengambil gambar tanpa izin.
Ansel menyebrang jalan, menghampiri Seira. Seira melirik sekilas dan berpikir pria berkalung kamera itu juga menunggu seperti dirinya, sebelum akhirnya pria itu berbicara padanya.
“Maaf, aku nggak sengaja memotretmu. Kamu … terlihat seperti bagian dari hujan itu sendiri,” kata Ansel. Seira menoleh pada pria yang berbicara padanya.
Seira diam sesaat, mengerutkan kening mencoba memahami apa yang dikatakan pria asing itu. “Maksudnya?”
“Aku fotografer. Hujan biasanya memberiku banyak kejutan dan hal indah untuk kuabadikan.” Ansel mengangkat kameranya. “Dan sepertinya … kau jadi salah satunya,” lanjutnya.
Pipi Seira memanas lalu memalingkan wajah. Ingin rasanya ia segera pulang dan menyembunyikan wajah di bawah bantal.
