Jakarta
Malam itu, kesunyian di kamar berukuran 3x4 meter terasa begitu pekat, seolah-olah dinding-dindingnya perlahan menghimpit ruang gerak Bondan. Di atas tempat tidur yang berantakan, ia duduk memeluk gitar akustiknya. Jemarinya memetik senar tanpa pola, menciptakan disonansi yang kasar. Tidak ada melodi indah, hanya serangkaian nada sumbang yang beradu, seolah menjadi latar suara bagi badai yang sedang berkecamuk di kepalanya.
Bondan merasakan setiap luka dan perih itu datang bergelombang, menghantam hati dan pikirannya tanpa jeda. Ada rasa sesak yang menjerat lehernya, sebuah tekanan emosional yang seolah meremuk jantungnya berkeping-keping. Begitu menyiksa, namun matanya yang lelah tetap kering. Ia adalah tipe pria yang tidak terbiasa meneteskan air mata, meskipun jauh di dalam sana, jiwanya sedang terendam kecewa dan hatinya kuyup oleh derasnya penyesalan. Ia sedang mengalami kekacauan koordinat perasaan yang sangat hebat.
Dalam sebuah sentakan tiba-tiba, Bondan meletakkan gitarnya dan menyambar handphone yang tergeletak di sampingnya. Dengan jempol yang sedikit gemetar, ia membuka sebuah aplikasi travel dengan ikon burung putih berlatar biru. Matanya menatap tajam pada layar, mencari sebuah kepastian di tengah ketidakpastian hidupnya. Hanya butuh tiga ketukan impulsif, dan layar itu menampilkan vonisnya: "Transaksi Berhasil".
Bondan baru saja membeli tiket sekali jalan ke Narita. Bukan untuk tahun depan, bukan untuk bulan depan, tapi untuk minggu depan. Sebuah pelarian impulsif yang dipicu oleh kehampaan yang tak tertahankan.
*****
Dua hari lalu, Bondan baru saja melewati momen yang membuat sistem sarafnya kacau balau. Hubungan dua tahun dengan Clarissa karam begitu saja di sebuah kafe di Jakarta Selatan. Dua tahun yang indah, waktu yang cukup untuk membangun kebiasaan dan kenangan yang melekat kuat, kini diputus paksa. Otak Bondan sedang bereaksi seperti pecandu yang kehilangan 'asupannya'. Logikanya mendadak lumpuh, digantikan oleh dorongan emosi yang membajak kendali dirinya, membuatnya tak lagi mampu merencanakan masa depan dengan tenang.
"Aku cuma ngerasa kita nggak pernah bener- bener jalan bareng, Bon," suara Clarissa sore itu terdengar datar, namun memiliki getaran yang sanggup meruntuhkan ego Bondan. Di depan mereka, dua cangkir kopi yang sudah mendingin menjadi saksi bisu dari akhir sebuah hubungan yang mulai berantakan.
