Pernah tidak kita merasa kalau logika kolektif kita belakangan ini sering mengalami bug atau macet? Baru-baru ini, berita tentang jambret yang tewas namun korbannya justru dituntut hukum mampir di beranda kita. Kejadian ini seperti sebuah glitch dalam sistem keadilan yang membuat kita terdiam sejenak dan bertanya: "Bagaimana urutan logikanya bisa jadi begini?"
Peristiwa ini sebenarnya bukan sekadar kasus hukum. Ini adalah cermin bagi kita untuk melihat bagaimana "mesin" berpikir kita bekerja. Garis antara sebab dan akibat sekarang makin buram, membuat kita sering kali sulit membedakan mana akar masalah dan mana yang hanya sekadar efek samping.
Otak Kita dan Mode "Hemat Energi" yang Menipu
Secara biologis, otak kita didesain untuk mencari efisiensi. Kita suka sesuatu yang praktis. Dalam dunia sains, ada istilah heuristik—semacam jalan pintas mental agar kita bisa mengambil keputusan tanpa perlu memeras otak terlalu dalam. Masalahnya, di tengah bisingnya arus informasi, jalan pintas ini sering kali membuat kita tersesat.
Pada kasus jambret tadi, kita sering kali mendadak kehilangan fokus pada rantai peristiwa secara utuh. Begitu melihat akhir yang tragis, rasa empati kita secara otomatis menutupi latar belakang kejadiannya. Kita seolah kehilangan jejak tentang siapa yang memulai dan kenapa hal itu terjadi. Ini tantangan bagi kita: mampukah kita tetap melihat gambaran utuh tanpa terjebak pada potongan-potongan emosional saja?
Jebakan Romantisasi: Dari Robin Hood hingga Titanic
Sebenarnya, kecenderungan kita untuk "memaklumi" yang salah atau "memburamkan" yang benar ini bukan hal baru. Kita sudah melakukannya selama berabad-abad lewat cerita-cerita legendaris.
Coba ingat kisah Robin Hood. Kita semua menyukainya karena dia mencuri untuk orang miskin. Tapi jika kita bedah pelan-pelan, mencuri tetaplah mencuri, bukan? Atau lihat bagaimana kita meromantisasi Romeo dan Juliet sebagai simbol cinta sejati, padahal jika kita lihat dari sudut pandang lain, itu adalah rangkaian keputusan impulsif remaja yang berakhir kacau. Begitu juga dengan Titanic; kita begitu terhanyut dalam drama cinta beda kasta antara Jack dan Rose, sampai kita kadang abai pada tanggung jawab di balik tragedi besar tersebut.
