Dalam salah satu episode podcast dari EndGame with Gita Wirjawan besutan Gita Wirjawan, berjudul "Etika Politik, Tata Negara, Filsafat Ekonomi ala Tom Lembong", di mana Tom Lembong menjadi narasumbernya, terdapat sebuah cuplikan diskusi yang menarik perhatian saya. Kutipannya kurang lebih seperti ini:
“Lebih mudah mengelilingi diri dengan penjilat atau dengan teman membentuk sebuah zona nyaman (red: bagi seorang pemimpin) daripada mengelilingi dirinya dengan ahli-ahli yang mungkin membuat kita menjadi merasa bego, atau dengan orang-orang yang idealis dan argumentatif. Karena kalau seorang pemimpin mengelilingi dirinya dengan orang yang idealis, ahli-ahli, suasana menjadi argumentatif. Banyak debat atau argumentasi…. Justru kita menginginkan konflik ide, konflik atau pertarungan gagasan biar gagasan atau ide terbaik yang menang dan kita ikutin ide terbaik yang menang melalui sebuah proses perdebatan. Butuh mental yang beda dari pemimpin yang memang punya ‘tujuan’ lain.”
Konteks kutipan tersebut adalah ketika membahas bagaimana Lee Kuan Yew mengelilingi diri dengan orang-orang yang memiliki atribut kompetensi, akuntabilitas, dan integritas. Sehingga kemudian beliau memilih untuk merekrut guru dari persentil 20% ke atas. Dimana berdasarkan data yang dimilikinya, guru yang datang dari populasi 20% persentil teratas bisa mengajar setara dengan 1,5 tahun ajaran. Sedangkan jika perekrutan guru diambil dari populasi random atau bahkan 20% persentil terbawah, mereka hanya dapat mengajar dalam setahun itu setara dengan 6 bulan ajaran saja.
Di sini saya tidak ingin membahas lebih jauh mengenai data teknis hal tersebut. Kita serahkan untuk saat ini hal tersebut kepada pihak akademisi dan pihak yang memiliki kewenangan dan expert terhadap bidang tersebut. Namun saya ingin menggarisbawahi beberapa kata kunci ide yang disampaikan oleh Tom Lembong: bahwa lebih mudah mengelilingi diri dengan orang yang sepaham (atau seakan sepaham) dan membentuk zona nyaman, daripada mengelilingi diri oleh para ahli yang seringnya membuat diri kita terlihat bodoh.
Hal ini berkaitan dengan sifat dasar manusia yang lebih memilih menghindari konflik dan berdamai dengan situasi ketimbang berada dalam situasi perdebatan yang sering dinilai sebagai situasi negatif. Fenomena ini mengingatkan saya pada apa yang pernah ditulis oleh Marcus Aurelius, seorang Kaisar Romawi sekaligus filsuf Stoik, dalam Meditations:
