Pernah dengar adagium klasik, "You are what you eat"? Rasanya, di tahun 2026 ini, kalimat itu sudah kadaluarsa. Tubuh kita mungkin dibentuk oleh apa yang kita makan, tapi jiwa dan karakter kita hari ini dibentuk oleh apa yang kita tonton.
Kita hidup di era di mana otak manusia tidak pernah benar-benar istirahat. Ada konsep dalam neurosains yang disebut Neuroplastisitas—kemampuan otak untuk mengubah struktur fisiknya berdasarkan kebiasaan dan input yang berulang. Bayangkan otak kita seperti tanah liat basah. Jika setiap hari kita mencetak pola "hiburan receh" di atasnya, maka lama-kelamaan, begitulah bentuk permanen karakter kita: lunak, haus sensasi, dan alergi pada kedalaman.
Tanpa sadar, kita telah menyerahkan kunci pembentukan karakter ini pada entitas asing yang bekerja dalam diam: Algoritma.
Kurator Tak Kasat Mata
Dulu, karakter seseorang dibentuk oleh didikan orang tua, lingkungan sekolah, dan buku apa yang ia baca. Prosesnya lambat, terkurasi, dan (biasanya) punya intensi baik.
Sekarang, "guru ngaji" kehidupan kita adalah algoritma TikTok dan Instagram. Masalahnya, algoritma tidak punya moral. Mereka tidak peduli apakah konten itu membuatmu jadi orang bijak atau jadi orang stres. Mereka beroperasi dengan satu mandat kapitalis murni: Retensi.
Sistem ini telah berevolusi dari Social Graph (apa yang temanmu suka) menjadi Interest Graph (apa yang hasrat bawah sadarmu inginkan). Algoritma adalah dopamine dealer yang paling efisien. Saat kamu merasa sedih dan berhenti menatap video kucing lucu selama 3 detik lebih lama dari biasanya, mesin mencatat itu sebagai "kebutuhan". Maka, lima menit kemudian, feed-mu akan banjir dengan kucing.
Anggap saja kucing yang membanjiri feed kita ya ;)
Ini menciptakan Echo Chamber atau gema ruang yang berbahaya. Kita merasa dunia ini sepaham dengan kita, padahal kita hanya sedang diteriaki balik oleh pantulan suara kita sendiri. Karakter kita tidak ditempa dengan perbedaan pendapat yang sehat, melainkan dimanja dengan validasi semu yang menumpulkan logika.
Statistik adalah Cermin
Jika kita ingin melihat wajah asli karakter bangsa Indonesia saat ini, jangan lihat buku sejarah. Lihatlah data statistik konten yang paling banyak dikonsumsi. Data tidak bisa berbohong soal siapa kita sebenarnya saat pintu kamar tertutup dan layar HP menyala.
