Setelah membaca konsep dari tiga mahakarya dari nama besar yang mengajarkan tentang kontrol terhadap diri sendiri:
Essentialism: The Disciplined Pursuit of Less karya Greg McKeown
The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson
Filosofi Teras karya Henry Manampiring
Saya tertarik untuk menjahit ketiga konsep tersebut ditambahkan dengan satu konsep paling kuno yang mungkin menjadi pondasi yang membangun ketiga konsep pada buku tersebut, yaitu Ikhlas.
Seni Memahat Diri: Menemukan Esensi di Balik Riuh
Bayangkan hidup kita seperti sebongkah batu marmer besar yang berdiri di tengah alun-alun kota yang sibuk. Sejak kecil, setiap orang yang lewat menempelkan sesuatu pada batu itu. Orang tua menempelkan ekspektasi, guru menempelkan aturan, masyarakat menempelkan standar kesuksesan, dan media sosial menempelkan definisi "bahagia" yang harus terlihat estetik.
Lama-kelamaan, kita tidak lagi melihat batu marmer itu. Yang kita lihat hanyalah tumpukan sampah warna-warni yang melekat padanya. Kita merasa berat, sesak, dan lelah, bukan karena batu itu sendiri berat, tapi karena kita sibuk menjaga agar tempelan-tempelan itu tidak jatuh. Kita hidup dalam apa yang disebut Greg McKeown sebagai The Undisciplined Pursuit of More—pengejaran tak berdisiplin akan "lebih banyak lagi". Lebih banyak validasi, lebih banyak pencapaian semu, lebih banyak basa-basi.
Di titik kelelahan inilah, perjalanan "pulang" dimulai.
Pisau Bedah Esensialisme
Langkah pertama bukanlah menambah sesuatu yang baru, melainkan pengurangan. Di sinilah kita memungut pisau bedah bernama Essentialism. McKeown mengajarkan kita satu mantra sederhana namun tajam: Less, but better. Sedikit, tapi lebih baik.
Kita mulai mengamati tempelan-tempelan di batu marmer tadi. Kita bertanya dengan kejam, "Apakah ini esensial?" Mark Manson, dengan gayanya yang slengean, mungkin akan berteriak dari pinggir lapangan, "Hei, simpan kepedulianmu (your f*cks) hanya untuk hal yang benar-benar penting!"
Manson dan McKeown sebenarnya sedang mengatakan hal yang sama dengan nada berbeda. Manson menyuruh kita berhenti peduli pada hal remeh, sementara McKeown menyuruh kita mendesain prioritas. Kita mulai mengelupas tempelan "harus terlihat kaya", kita buang tempelan "harus disukai semua orang", kita kikir tempelan "takut ketinggalan tren".
