Dewasa ini, kebiasaan bertanya tidak lagi menjadi sesuatu yang umum. Orang terbiasa berpikir pendek dan langsung menyimpulkan.
Kebiasaan bertanya dikaitkan dengan kesimpulan.
Budaya kritis menjadi mati.
Budaya beropini mati.
Semakin sebuah pertanyaan dipertanyakan dan dianggap tidak pantas, maka manusia akan semakin lupa bahwa bertanya adalah awal dari berpikir. Kita tidak terbiasa bertanya karena bertanya dianggap ingin melawan kebiasaan dan keterteraturan.
Beberapa pertanyaan dianggap tabu, padahal seharusnya akan sangat baik jika dijadikan bahan diskusi.
Mempertanyakan kenapa kita harus menikah contohnya, seringkali dianggap sebagai sebuah pengambilan kesimpulan bahwa kita tidak ingin menikah dan membenci pernikahan. Mempertanyakan mengapa tuhan menciptakan laki laki dan perempuan sebagai pasangan juga seringkali disimpulkan sebagai sesuatu yang menyimpang. Mempertanyakan mengapa kita harus percaya pada Tuhan akan langsung dilabeli sebagai sebuah dosa besar. Begitu banyak pertanyaan lain yang lebih sering dihakimi alih-alih dijawab. Padahal awal dari pengetahuan adalah rasa ingin tahu.
Secara natural, semua orang pasti pernah menanyakan pertanyaan semacam ini. Beberapa memilih memendamnya. Beberapa yang lain memilih mengungkapkannya dan tidak jarang berakhir dengan munculnya rasa bersalah karena dianggap salah oleh kebanyakan orang.
Hal ini terjadi karena hampir seluruh anggota sistem percaya bahwa mempertanyakan sistem yang sudah berjalan lama dianggap tidak baik, merusak tatanan. Padahal perilaku ini menutup kemungkinan- kemungkinan lain, karena sejatinya dalam setiap pertanyaan akan muncul 2 kemungkinan. Tesis dan antitesis, yang mana keduanya akan menghasilkan sintesis.
Orang yang mau bertanya akan berpikir dan akan sepenuhnya sadar dalam memilih piihan hidupnya, tidak hanya sekadar mengikuti tatanan yang sudah ada. Jika kebiasaan bertanya ini dikubur dan dihilangkan, bagaimana sebuah sintesis bisa terjadi.