Aku membutuhkan beberapa menit untuk mencerna semua yang dialami oleh tokoh yang ada di buku yang tebalnya tidak lebih dari 200 halaman ini. Membacanya hanya butuh beberapa jam, tapi berempati atas segala hal yang terjadi pada tokoh utamanya, Margio, membutuhkan waktu lebih dari itu. Akhir dari novel ini telah diceritakan bahkan pada kalimat pertamanya, bahwa Margio membunuh Anwar Sadat pada senja hari itu. Namun, kalimat itulah yang justru membuatku terus ingin tahu kenapa dan bagaimana pembunuhan itu terjadi.
Novel yang bercerita tentang pembunuhan pada umumnya akan selesai pada siapa pelakunya, dimana dan kapan terjadinya pembunuhan. Namun, Lelaki Harimau tidak menceritakan mengenai itu. Novel ini mengupas fenomena atau masalah yang sering terjadi di masyarakat kelas menengah ke bawah. Tokoh-tokohnya memperlihatkan bagaimana pola pikir, perilaku, dan karakter masyarakat di kelas tersebut pada zamannya.
Seluruh kompleksitas yang terjadi antar individu melahirkan berbagai macam intrik yang dijadikan premis di novel ini. Tetapi satu hal yang membuatku terdiam adalah latar belakang setiap individu yang menyebabkan mereka terlibat intrik satu sama lain.
Aku menyebut banyak 'orang sakit' di novel ini. Orang-orang yang memiliki pola pikir kuno, meremehkan seorang perempuan, menyatakan bahwa perempuan tidak memiliki pilihan selain harus segera menikah, orang-orang jahat yang lahir karena kemiskinan, praktik KDRT, tindakan bodoh orang miskin yang justru dimanfaatkan oleh orang kelas atas yang semena-mena.

