Dua kali.
Dua kali aku membaca Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria, maka dua kali pula aku berpikir. Menurutku, salah satu cara untuk mengukur apakah kita telah bertumbuh adalah dengan membaca ulang buku yang sudah kita baca. Apakah kita mempelajari sesuatu yang baru yang tidak kita sadari saat pertama kali membacanya? Jika iya, maka itu berarti kita telah bertumbuh.
Tapi orang-orang terlalu berlebihan menganalogikan baca buku dua kali sama saja dengan balikan sama mantan. Akhir ceritanya sama. Padahal baca buku dua kali dan balikan sama mantan itu beda.
Lain kali kita bahas itu.
Artikel ini akan membahas apa yang aku pikirkan setelah membaca Makanya, Mikir! pertama kali dan yang kedua kali.
April 2025, aku membaca buku ini, sebulan habis. Beberapa hal yang nyangkut di kepalaku adalah cara mengambil keputusan dengan cost-benefit analysis dan cara membedakan antara ranah realitas dan ranah perspektif. Saat itu, aku baru sadar bahwa kita harus berpikir secara sadar, buku ini membuatku mengetahui banyak hal yang belum pernah aku ketahui. Teknis, satu kata yang kusimpulkan setelah pertama kali membacanya.
Yang menarik, masih tertinggal satu pertanyaan yang belum terjawab hingga sekarang tentang apa itu bahagia.
Setahun berlalu, aku membaca ulang buku ini. Apa yang aku pikirkan benar-benar berbeda dari pengalaman pertama kali aku membacanya. Buku ini tidak lagi aku anggap sebagai panduan teknis untuk mencapai tujuan hidup atau mengambil keputusan atau cara untuk melihat sebuah fenomena. Buku ini menjadi pemantik otakku untuk berpikir lebih jauh tentang diriku.
Aku berpikir lebih jauh tentang keluarga dan lingkungan sebagai tempat awal seseorang bertumbuh.
Berawal dari sebuah bagian yang menyampaikan bahwa tercapainya tujuan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, pikiranku mengerucut pada keluarga ideal dan kemampuannya menghadirkan lingkungan yang juga ideal.
Berikut visiku akan keluarga yang ideal:
Orang tua yang bepikiran terbuka, syukur-syukur berpendidikan.
Tidak ada kesulitan yang berarti dalam hal ekonomi.
Mental orang tua stabil dan tidak seberapa terpengaruh oleh trauma masa lalu.
