Pada Hilang aku menatap
Mencoba menerjemahkan wujud sebenarnya
Bagai bulan yang senantiasa menampakkan sisi terangnya, namun selalu berhasil menyimpan sisi gelap yang seakan tak ingin siapapun tahu, ada kegelapan yang dimiliki pada terang yang menenangkan setiap jiwa yang menatapnya.
Aku mengerti, sangat mengerti. Betapa rasa yang pedih dan kadang tak tersanggupi, saat Hilang datang menyergap.
Hilang harta, hilang orang yang tersayang, hilang Indra.
Tapi aku penasaran, mencoba melangkah ke sisi gelap sang Hilang.
Sisi yang tak ada yang mampu menerjemahkan. Sisi yang tak ada yang mampu menyaksikan.
Satu kesamaan yang pasti, Siapapun tak ada yang menyadarinya. Karena Hilang selalu datang disaat yang tak tepat, tak akan pernah tepat.
Lalu apa bedanya?
Sisi
gelap Hilang tak mampu menunjukkan. Bahwa ada hilang yang bahkan tak mampu disaksikan bahkan oleh diri yang kehilangan.
Hilang arah, hilang waktu, hilang harapan, hilang keyakinan.
Ah...
Sungguh Aku pun mampu membungkus rapi rasa kehilangan semacam itu. Sehingga tak tampak oleh satupun makhluk di muka bumi ini. Bagai sisi gelap bulan yang tak ingin ditampakkan.
Tapi sungguh.
Betapa rasa yang pedih dan kadang tak tersanggupi, lalu terkejut dan terhuyung hempas terjerembab. Itu sangat mampu dirasakan. Dan merasuk rapi melalui pori-pori. Bagai dingin udara malam yang tak pernah tampak saat menyaksikan terang rembulan, namun menyengat dan menusuk setiap saraf pada epidermis.
Kini dalam siraman sinar malam yang pemalu. Ditengah tiupan angin transparan yang menyengat.
Aku..... Hilang....

