Sebagai makhluk paling mulia
Gambaran hidup begitu indah
Menggores tinta damai bersama
Menggenggam masa menatap asa
Namun..
Satu wujud dalam kepala
Tertanam seiring kaki tertata
Setiap liku terekam mata
Sesatkan langkah bawa dilema
Logika..
Bagai kertas putih merona
Tak mampu gurat tinta menjelma
Tangan tengadah melirik sukma
Jiwa penyair gagah berpena
Hiruk pikuk gesekan raga
Henyakkan hati bakar sentosa
Kertas putih tiada merasa
Kini penuh coretan luka
Saat kertas tak lagi merona
Redup kilau wajah kirana
Tercoreng murka pada dunia
Jerumuskan ruh dalam kobar membara
Kepada jiwa yang tak lagi bermakna
Terbawa logika gundah gulana

