Kapan menikah?
Si A udah punya anak 4 loh, kamu kapan?
Kelamaan milih sih...
Hmmm, ga sedikit pertanyaan ini hadir disekitar kita. Kebetulan gue adalah seorang milenial yang merantau di Jakarta, pertanyaan itu semua sering ditujukan pada gue setiap pulang kampung. Gue kadang trauma untuk pulang kampung. Lelah mendengar pertanyaan itu, lelah dengan judging orang-orang, lelah dengan lirikan bandingan mereka. Gue yakin banyak juga dialami oleh orang-orang yang belum menikah diluar sana.
Gue belum menikah bukan karena tidak mau. Ada, gue pake dating app untuk berkenalan dengan lawan jenis, tapi sering kali gue ngerasa hubungan disana fake dan mengerikan. Ada, gue taaruf, tapi beberapa kali terhalang status keluarga, suku asal gue, bahkan gue juga pernah menolak karena agak tidak ideal untuk diri gue sendiri. Ada, gue tanya-tanya teman, kakak kelas, guru untuk dikenalkan, lagi-lagi ada aja hal yang tidak diinginkan. Alias belum berjodoh.
'Ah kamu terlalu milih-milih', 'Ah kelamaan milih kamu', dan banyak lagi pertanyaan lain. Menurut gue wajar kita memilih pasangan hidup. Gue sebagai wanita yang sudah berjuang untuk keluarga sejak SMA, sudah terbiasa bekerja keras, jika dihadapkan dengan pelamar yang tidak bekerja, tentu saja gue akan menolak. Atau dengan pelamar yang mengharapkan kita hidup dirumah ibunya, merawat ibunya yang sakit, dan rela berbagi gaji 2 jutanya dengan ibu dan 3 adiknya yang masih sekolah, tentu lagi-lagi akan berfikir kembali untuk menerimanya. Bukan karena gue matre, tapi karena memang tidak realistis dengan hidup gue.
Ga sedikit diantara teman gue yang sudah berakhir pernikahannya. KDRT lah, tidak dinafkahilah, suami mokondolah, atau yang sudah kaya, selingkuhlah, yang paling banyak adalah perlakuan keluarga pasangan yang tidak baik dan adil kepadanya. Yang membuat teman-teman gue stress, depresi hingga akhirnya berujung menyakiti diri sendiri dan bercerai. Jujur hal itu juga yang membuat gue takut dan ngeri dengan kehidupan menikah.
Tapi percayalah, banyak juga yang sudah berhasil dengan keluarganya. Bertahan dan sabar membina dari nol bersama. Gue akui banyak juga. Tapi mungkin mereka juga mengalami banyak hal untuk sampai dititik itu. Mereka telah memilih yang tepat saling melengkapi. Itu pun membuat gue bahagia dengan mereka.
