Membaca Novel Amba membuatku berhenti sejenak untuk, lagi dan lagi, merenungkan 'apa sebenarnya arti cinta?' Manakah yang lebih tepat? getaran yang begitu menggebu dengan segala ketidakpastiannya atau perasaan tenang dan aman yang muncul dengan segala perencanaannya.
Bhisma atau Salwa
Amba dan Bhisma. Magis, mereka seakan sudah tahu bahwa mereka ditakdirkan untuk mencintai satu sama lain. Tidak perlu banyak tahu soal latar belakang, makanan kesukaan, hobi hingga pendapat alias tanpa babibu, segala perasaan yang mendebarkan tiba-tiba muncul pada dan untuk satu sama lain. Walaupun tidak dapat dipungkiri terdapat sejuta pertanyaan yang juga mengiringi perasaan itu. Tetap saja hanya dalam hitungan hari Amba bisa memutuskan bahwa ia mencintai Bhisma. Inilah yang ternyata ia cari dan ia butuhkan selama ini. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak ia temukan pada setiap pertemuan dan pada setiap jenis kencannya dengan Salwa.
Benarkah perasaan sebagaimana yang dirasakan Amba terhadap Bhisma adalah sebuah cinta yang murni; ia mendebarkan, tanpa syarat dan tidak menuntut kepastian. Cintanya pada Bhisma bahkan tetap ada meskipun ia tahu bahwa seribu ketidakpastian berujung penderitaan mungkin telah menanti mereka.
Sebagaimana ucap Jean Marris pada Minke di novel Bumi Manusia, ‘Cinta datang bersama kesanggupan menanggung penderitaannya’. Ia yang siap menanggung cinta adalah ia yang siap menanggung penderitaan yang menyertainya. Konsep cinta yang murni ini semakin sulit ditemui di masa sekarang, karena seiring tertatanya hidup manusia maka konsep ini semakin tidak relevan. Kehidupan yang tertata dan teratur mengharapkan ketenangan dan keajegan. Sedangkan cinta murni hanyalah milik manusia bebas, jauh dari ketenangan dan keajegan.

Di sisi lain, jenis cinta sebagaimana yang dimiliki Salwa untuk Amba adalah cinta yang sudah menyesuaikan dengan sistem sosial masyarakat yang ada. Ia adalah cinta yang menuntut kemapanan, kepastian dan kenyamanan. Ia jarang memberikan debaran dan kebahagiaan yang utuh. Cinta semacam ini dipenuhi perencanaan dan pencapaian.
Konsep cinta baru ini muncul sebagai sikap manusia itu sendiri atas banyaknya rasa sakit yang lahir atas cinta murni.
