Beberapa hari lalu, story di media sosial riuh dengan gaya 80-an buatan AI. Foto-foto masa kini di-generate oleh AI, lalu diubah gayanya menjadi foto lawas. Ya, namanya juga tren sesaat. Setiap kali ada tren baru, banyak orang langsung berbondong-bondong ikut ramai.
Demikian juga yang kulihat di platform lain. Ada pola-pola berulang yang diunggah orang-orang yang hendak menawarkan produk—entah barang, jasa, atau yang sedang marak sekarang: produk digital. Muncul satu pola, ditiru, diproduksi ulang dengan sedikit variasi, sampai akhirnya kita melihat hal yang sama berulang-ulang di mana-mana. Mungkin memang begitulah keriuhan media sosial hari ini.
Dan aku mendadak teringat sesuatu, yaitu saat aku scrolling media sosial, aku menemukan reels seorang perempuan yang fasih sekali bercerita tentang Kerajaan Joseon di Korea. Rinci banget, bahkan sejarah setiap pangerannya pun diceritakan dengan detail. Aku penasaran dan mencoba merunutnya lebih jauh.
Salah satu hal yang kemudian membuatku berpikir adalah bagaimana sejarah, silsilah, dan kisah masa lalu bisa ditelusuri dengan begitu runtut. Bukan hanya karena ada orang yang menceritakannya kembali, tetapi karena ada begitu banyak dokumentasi yang meninggalkan jejak.
Lalu tiba-tiba, sebuah pertanyaan hinggap di kepalaku: Bagaimana dengan keluarga kita, aku dan banyak orang saat ini?
Wait! Aku bukan sedang membandingkan Korea dengan Indonesia, apalagi membahas kerajaan lokal. Yang membuatku berpikir justru sesuatu yang jauh lebih dekat: budaya dokumentasi dan menulis dalam keluarga kita sendiri.
Apakah di keluarga kita ada catatan tertulis tentang siapa nenek moyang kita? Apakah ada yang menuliskan kisah hidup kakek atau nenek? Atau sebagian besar cerita itu hanya dari tutur kata yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya? Jika orang yang menyimpan cerita itu kelak sudah tidak ada, lalu siapa yang akan mengingatnya?
Dari situ, pikiranku malah berkelana lebih jauh—sampai pada satu keresahan yang sebenarnya tidak perlu dibuat resah juga sih, namun namanya manusia, resah kan boleh saja.
Apakah suatu hari nanti manusia benar-benar akan kehilangan kemampuan untuk menulis?
