Entri Jurnal
- 9 Januari 2025 -
Hampir sebulan lalu, ada pemandangan yang tak lazim di jalanan Jakarta. Muncul taksi berlalu lalang tapi kali ini dengan warna yang sebelumnya belum pernah saya lihat. Dalam hati saya berkata “oh ini yang kemarin sempat jadi perbincangan di portal-portal berita”. Kehadiran pemain baru di industri ride hailing dari negara yang sebelumnya saya tidak pernah tertarik atau lebih tepatnya kepikiran untuk cari tahu tentang negara tersebut. Karena saya tidak ngerti tentang industri ride hailing dan tentunya saya tidak mencari tahu lebih jauh tentang siapa pemain baru tersebut (selain penamaan taksinya yang entah sulit sekali nempel di kepala). Saya justru lebih tertarik untuk menelisik tentang negara tempat pemain baru tersebut berasal.
Jika kita bicara tentang pemain di bidang industri teknologi atau transportasi. Barang dari Amerika, sudah lazim. Dari Eropa, juga sudah banyak. Jepang, juga demikian. Tiongkok? Luar biasa sekali perkembangannya di Indonesia. Tapi kini muncul satu negara baru, Vietnam. Hmm.. Terus terang, di kepala saya ketika mendengar Vietnam, yang muncul adalah memori saya tentang jalan cerita film “Rambo” dan di beberapa tahun lalu pada film “My Stupid Boss 2” yang kebetulan mengambil latar di negara tersebut. Keidentikan dengan sektor pertanian, kesederhanaan, atau kisah perjuangan rakyat pada peperangan Vietnam dengan cerita tentang strategi agresinya yang mendunia karena berhasil mengantarkan Vietnam kepada kemenangan melawan Amerika pada saat itu. Sama sekali tidak ada ide bahwa Vietnam akan masuk ke Indonesia sebagai salah satu pemain di industri berbasis teknologi.
Kemudian saya mencari tahu tentang Vietnam di berbagai sumber di internet dan saya menemukan beberapa hal yang akan saya bahas pada artikel ini.
Perang yang terjadi di Vietnam sungguh merupakan pukulan sejarah bagi Vietnam dan seluruh masyarakatnya. Dilansir dari Kompas.id, perang tidak hanya menghancurkan perekonomian mereka, tetapi juga struktur institusional yang memiliki pengaruh besar pada kebijakan ekonomi mereka. Kebijakan ekonomi yang pada saat itu bertujuan untuk pemulihan pasca perang dengan menitikberatkan pada nasionalisasi dan sentralisasi ekonomi terutama di sektor produksi dan industri berat itu justru tidak memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Vietnam. 10 Tahun berlalu Vietnam berada dalam kondisi “jalan di tempat”. Nilai ekspor berada dibawah 50% terhadap nilai impor, inflasi sangat tinggi, tidak adanya investasi asing, hingga terjadinya technology gap dengan negara-negara tetangga. Kondisi ini kemudian menggerakkan Partai komunis Vietnam untuk melakukan reformasi ekonomi. Lalu pada kongres keenam PKV pada tahun 1986, terjadi kesepakatan untuk meluncurkan Reformasi Doi Moi yang menitikberatkan pada liberasi ekonomi, reformasi sektor pertanian, dan dibukanya pintu bagi perdagangan internasional dan investasi asing. Kebijakan ekonomi baru tersebutlah kemudian yang menjadi titik balik penting dalam transformasi ekonomi di Vietnam.
Sejak diluncurkannya Reformasi Ekonomi Doi Moi. Geliat perekonomian di negara tersebut mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Hal ini pun memberikan dampak perubahan yang luar biasa. Beberapa hal yang tercatat diantaranya terjadinya liberasi ekonomi yang menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatnya pendapatan masyarakat. Masuknya investasi asing juga membuka mata masyarakat terhadap teknologi dan mempersempit gap di bidang tersebut. Efek domino dari itu, masyarakat pun mengalami diversifikasi ekonomi yang dengan cepat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertanian yang sebelumnya menjadi tulang punggung pendapatan mereka. Integrasi global dengan bergabungnya Vietnam pada organisasi World Trade Organization (WTO) pun membuka peluang kerjasama dan menghasilkan perjanjian perdagangan bebas yang kembali memperluas penyerapan tenaga kerja dan berdampak pada peningkatan standar hidup masyarakat Vietnam.
Rangkaian hal tersebut membawa Vietnam dalam kurun waktu kurang dari 40 tahun pasca Reformasi ini menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat di dunia dan bahkan mencatatkan pertumbuhan ekonomi diatas 7% pada tahun 2024 lalu (Angka pertumbuhan ekonomi yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia pada tahun ini). Bukan tidak memiliki Side Effect, pertumbuhan ekonomi yang pesat ini juga membawa beberapa dampak buruk seperti terjadinya ketimpangan pendapatan di kalangan masyarakat Vietnam.
Deforestasi, polusi, dan degradasi sumber daya alam. Hilangnya tanah milik petani akibat diversifikasi industri dan urbanisasi. Juga terjadinya kesenjangan pembangunan antara perkotaan dan pedesaan. Saya mencoba melihat dari jendela perspektif “Disruption”, dimana kata itu selama 1 dekade belakangan menjadi topik yang sangat memengaruhi cara manusia dalam berpikir dan bertahan hidup.
Well, Vietnam telah membuktikan kepada dunia terlepas dari efek entropi yang dimiliki, mereka berhasil melakukan Disruption dan membawa mereka menjadi salah satu negara yang diperhitungkan di Asia.
Apakah Indonesia juga mampu melakukan hal yang sama dan benar benar bisa menggapai cita-cita menjadi Indonesia Emas Tahun 2045?
#vietnam #indonesiaemas #2045