Entri Jurnal
Setelah menyelesaikan aktifitas pada Jumat malam, saya menghabiskan waktu ngopi bersama salah seorang teman dan berdiskusi tentang banyak hal. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah diskusi tentang bagaimana AI begitu berpengaruh terhadap kemampuan intelektual kita.
Seperti yang kita ketahui, beberapa tahun belakangan dunia Teknologi memasuki babak baru dengan kehadiran AI (Akal Imitasi / Artificial Intelligence). Teknologi ini banyak sekali membantu produktifitas manusia dan dalam beberapa kasus, mulai menggantikan tenaga manusia. Keadaan ini menimbulkan dua perspektif. Ada yang menyambut baik kehadiran AI sebagai alat bantu manusia dalam melakukan aktifitas produktifnya, namun tidak sedikit yang melihat ini sebagai ancaman bagi individu yang tidak berhasil meningkatkan kemampuan produktifnya. Bahkan kenyataan bahwa penggunaan AI yang dirasa lebih efisien dan efektif ketimbang menggunakan tenaga manusia, telah membuat Sumber Daya Manusia merasa terancam akan kehilangan mata pencahariannya.
Saya disini sedang tidak menyoroti kedua perspektif tersebut. namun saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana AI berdampak pada perkembangan inteligensi manusia sebagai makhluk yang secara kodrat diharuskan untuk berpikir.
Hal ini sejalan dengan banyaknya kehadiran AI yang bukan hanya membantu, namun sampai menghasilkan karya jadi seperti musik, gambar, artikel, bahkan buku. Sebagai contoh, kehadiran website pembuat musik hanya dengan memasukkan prompting musik seperti apa musik yang dikehendaki dengan tema yang diinginkan, suno.com. Atau website AI yang bisa menghasilkan buku dengan jumlah halaman yang diinginkan hanya dengan melakukan cara yang sama, memasukkan prompting tentang apa tema buku, gaya bahasa, dan jumlah kata/halaman yang diinginkan, designrr.
Dalam beberapa kesempatan saya pun mulai mendengar opini tentang bagaimana kemudahan AI menjadi solusi yang membuat kita menjadi “expert” dalam bidang tertentu tanpa melalui proses belajar yang memakan waktu dan energi. Yang sayangnya, hasil tersebut jarang sekali diakui sebagai produk dari AI melainkan diakui sebagai hasil karya sendiri (orisinil).
Dalam dunia kerja pun ditemukan beberapa hal yang berkaitan, diantaranya:
- Email atau dokumen bisnis berbahasa Inggris, yang menggunakan tata bahasa Inggris profesional yang sangat baik.
- Analysis Report yang dihasilkan secara inklusif yang dibuat dalam waktu yang relatif singkat
- Materi presentasi yang menarik
- Video/clip editing yang berkualitas dan memiliki standar jual tinggi.
- Pemrograman aplikasi atau data analisis
Dan banyak lagi hal lain yang semua itu diakui sebagai hasil kerja atau buah pemikiran kita sendiri namun sebenarnya dibantu oleh AI.
Mungkin tidak ada yang salah terhadap hal tersebut. Toh dampaknya baik bagi produktifitas dan juga meningkatkan kualitas hasil kerja ketimbang hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri. Namun saya pribadi memiliki kekhawatiran terhadap fenomena “mendadak expert” ini. Dimana kita sebagai makhluk intelektual menjadi bergantung pada penggunaan AI ketimbang menjalani proses belajar yang panjang. Di sisi lain, dengan mengakui karya atau hasil kerja produk AI sebagai produk buatan kita sendiri, membuat kita menjadi tidak jujur terhadap kemampuan inteligensi kita. Hal ini mungkin saja berdampak pada kemunduran kemampuan inteligensi serta daya juang sumber daya manusia di era yang serba instan dan mudah ini.
Untuk itu dibutuhkan kesadaran dari masing-masing individu untuk bisa jujur bahwa hasil produk AI bukanlah hasil inteligensi kita, dan kita sebagai manusia tetap harus melalui proses belajar dan pengalaman langsung untuk menjadi seorang expert. Sehingga ke depannya kita tetap bisa menikmati hasil karya atau hasil kerja orisinil dari kemampuan akal yang telah Tuhan anugrahkan kepada kita.
Bagaimana menurut anda?
#ai #artificialintelligence