Entri Jurnal
Orang yang tidak marah bukan berarti tidak marah. Ia hanya tidak mampu menunjukkan emosinya dengan tepat.
Kalian pasti punya satu orang di sekitar kalian yang dilabeli sebagai orang yang tidak pernah marah. Label ini biasanya muncul untuk seseorang yang sering bilang 'gapapa', orang yang terkenal fleksibel atau orang yang cenderung diam saat marah.
Padahal yang sebenarnya terjadi bukanlah "tidak marah", melainkan ia tidak bisa menunjukkan kemarahannya. Aku tahu rasanya karena aku termasuk salah seorang yang dianggap tidak pernah marah.
Kami bukannya tidak marah atas suatu hal buruk yang menimpa kami. Kami hanya mempertanyakan kepantasan kami untuk marah dan bagaimana cara menunjukkan kemarahan kami dengan tepat tanpa membuat orang lain tidak nyaman. Karakter beserta lingkungan tempat kami tumbuh seringkali tidak memberi kesempatan kepada kami untuk menunjukkan emosi marah atau lebih parahnya membuat kami merasa tidak pantas untuk marah.
Beberapa jenis penyebab mengapa orang tidak bisa marah
1. Yes Man, people pleaser, takut membuat orang kecewa kalau ia marah
2. Tidak tahu caranya marah. Ia tidak tahu bahwa ada cara yang baik dalam menunjukkan emosi marah, hal in terjadi karena dalam dirinya sudah terpatri bahwa marah adalah sesuatu yang buruk.
3. Tidak tahu batas diri dan batas kemampuannya sendiri. Ia tidak bisa mengidentifikasi apakah suatu peristiwa mengganggu kepentingan dan kenyamanannya atau tidak.
4. Malas menarik perhatian dan mengabaikan emosi yang ia rasakan, akibatnya emosinya menumpuk
5. Memiliki latar belakang anger issues. Ia merasa terlalu menggebu gebu saat marah sehingga dia takut menyakiti orang lain dengan kemarahannya.
Anggapan yang biasa dikatakan mungkin serupa:
"Udah nggak papa, dia anaknya baik kok, nggak akan marah"
Sejauh apa orang lain bisa menakar batas kemarahan orang lain sampai kalimat semacam ini terucap? Pertama, kalian tidak pernah tahu dalam kondisi apa seseorang saat ada sesuatu terjadi, mungkin saja hal ini dulu tidak membuatnya marah, namun tidak ada hak untuk kalian mengatakan bahwa dia tidak akan marah. Kedua, marah tidak selalu menjadikan kita orang yang buruk, begitupun tidak marah tidak lantas menjadikan kita orang baik.
Bahkan hal yang lebih parah yang dapat diterima oleh kami adalah batas kami dilewati seenaknya. Banyak orang merasa bisa berbuat seenaknya karena memang kami tidak pernah terlihat marah atau keberatan ketika kami diperlakukan sedemikian rupa. Mungkin beberapa orang berpikir ini kesalahan kami karena tidak mengatakan keberatan kami. Baik kami terima itu dan bagian memperbaiki diri adalah tanggung jawab kami. Tetapi bukankah bijaknya semua orang juga belajar menghargai orang lain, bukan karena seseorang tidak marah berarti mereka bersedia diperlakukan seenaknya.
Anggapan "tidak akan marah" ini pun semakin memperparah kondisi seseorang, ia semakin merasa bahwa ia adalah orang yang dikenal tidak pernah marah. Maka dalam tumpukan waktu dan peristiwa itu akan muncul pikiran 'takut' begitu sekali saja ia menunjukkan kemarahannya. Ia takut orang akan melihat ia sebagai orang yang berbeda.
Jarang marah atau tidak pernah marah bukan berarti baik. Ada banyak hal yang tersimpan dari satu sikap "tidak marah". Emosi yang terlalu sering diabaikan, batas diri yang terus-terusan dilampaui, ketidaktahuan cara marah dengan benar.
Namun, tidak semua orang sadar bahwa terus-terusan menahan kemarahan bukanlah hal yang bijak. Ketidaksadaran akan hal ini memberikan efek yang akan sangat besar pada hidup seseorang. Maka langkah yang paling bijak adalah mulai belajar untuk menyampaikan rasa keberatan dan mulai menyuarakan jika batas kita dilewati oleh orang lain. Tulisan ini bukan untuk mengajari untuk menjadi orang yang marah-marah. Marah dengan meledak-ledak dan dalam jumlah berlebihan itu destruktif. Marah yang sehat adalah mengomunikasikan rasa berat yang dirasakan hati dan menyampaikan keberatan kita atas suatu tindakan.