Entri Jurnal
Di dunia yang serba cepat dan serba sosial media ini, banyak orang yang mulai merasakan dampak negatif akibat kecanduan bermain media sosial. Mayoritas merasa tingkat fokus dan konsentrasinya menurun, menjadi lebih sering menunda pekerjaan karena terlalu asik scrolling, bahkan terganggunya kesehatan mental akibat membandingkan hidupnya dengan apa yang ada di sosial media. Beberapa orang telah menyadari keberadaan dampak negatif ini dan mulai memutuskan untuk mengurangi intensitasnya dalam bermain media sosial bahkan menutup akses sepenuhnya pada media sosial.
Langkah ini merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi dampak negatif penggunaan sosial media yang berlebihan. Seseorang akan mulai menyadari hal-hal kecil di sekitarnya yang selama ini ia abaikan. Seseorang yang bangun pagi tanpa langsung mengecek handphone akan bangun dengan lebih segar. Makan tanpa menonton layar handphone membuat seseorang benar-benar menyadari rasa dan nikmatnya sebuah makanan. Seseorang akan mulai mencari aktivitas lain dan mungkin menemukan hobi baru seperti membaca, bermain alat musik, atau olahraga.
Namun, tidak kita pungkiri bahwa dunia terus bergerak sesuai dengan apa yang dipercaya sebagian besar orang (trend). Orang yang mulai mengurangi aktivitasnya di media sosial biasanya rentan dikucilkan oleh kelompoknya karena dianggap kurang relevan dengan mereka.
Sebagaimana perubahan yang selalu melahirkan ketidaknyamanan di awal, hal ini juga terjadi pada kasus ini dan tentunya membutuhkan penyesuaian.
Dengan mengurangi sosial media, seseorang merasa lebih tenang, merasa cukup dan mulai mendapatkan fokus serta konsentrasinya kembali. Namun, lingkungan lamanya mungkin akan terus membahas apa pun yang sedang ramai di media sosial, entah itu tren berpakaian, tren lagu, tempat kopi paling baru, sampai berita atau gosip selebritas. Pada kondisi inilah mungkin seseorang akan dianggap tidak lagi relevan dengan lingkungan sosialnya, ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Hal ini terkesan seperti sesuatu yang buruk. Namun percayalah, ini tidak seburuk itu.
Seseorang yang telah memilih mengambil langkah yang terbaik untuk hidupnya akan otomatis memilah lingkungan mana yang sesuai dengannya. Lingkungan yang baik tidak akan menghakimi pilihan seseorang untuk mengurangi media sosial selama itu berdampak baik padanya. Lingkungan yang baik akan menghargai pembahasan yang lebih bernilai dibanding hanya membahas apa yang sedang menjadi trend.
Bijak menggunakan media sosial bukan berarti sepenuhnya menutup diri dari media sosial. Langkah menutup semua akses biasanya menjadi langkah awal yang tepat. Setelah merasa mampu memilih mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang tidak, seseorang bisa kembali menggunakan media sosial untuk tetap terbuka dengan pergerakan dunia.
Bijak adalah seimbang
Lalu pertanyaannya. Untuk mencapai kata seimbang, seberapa perlu kita update tentang tren di media sosial?
Secara psikologis, kebutuhan untuk "tetap update" bukanlah kebutuhan utama seseorang. Jika memang suatu tren tidak menambah nilai pada seseorang, maka "update" bukanlah suatu keharusan. Untuk memperjelas seberapa perlu, tren bisa dibagi menjadi 2, yaitu tren yang bersifat hiburan, seperti trend tiktok, kasus selebgram, kasus perselingkuhan artis, perdebatan opini di sosial media, bullying dan cancel culture dan tren yang bersifat informatif, seperti berita politik, ekonomi, sampai kebijakan pemerintah.
Untuk tren yang bersifat hiburan, seseorang hanya perlu 'cukup tahu' atau bahkan tidak tahu sama sekali juga tidak menjadi masalah. Ubah mindset dari 'Aku ketinggalan' menjadi 'Aku memilih apa yang layak aku konsumsi'. Dengan begitu, seseorang tidak akan terpengaruh saat dilabeli tidak update atau saat dikucilkan. Langkah yang tepat ketika lingkungan sekitar membahas tren ini adalah bersikap terbuka dengan cukup mendengar dan bertanya jika memang hal itu menarik perhatian. Tidak update tentang tren ini bukanlah suatu kegagalan yang dapat memengaruhi kehidupan. Lagipula, untuk tetap relevan dengan lingkungan, kita tidak harus mengorbankan diri dengan mengikuti lingkungan tersebut.
Sedangkan untuk tren yang bersifat informatif, update diperlukan, namun tidak harus intens. Poinnya bukan pada "seberapa banyak tahu", melainkan "seberapa informasi ini cukup untuk membuat keputusan dan berinteraksi sosial". Terlalu banyak mengonsumsi berita dalam dan luar negeri yang penuh ketidakpastian bisa memicu stres dan cemas.
Kebiasaan lama generasi terdahulu membaca satu koran di pagi hari mungkin perlu diterapkan kembali di era media sosial ini. Seseorang bisa mulai mendedikasikan satu waktu tertentu untuk membaca berita selama 30-45 menit. Di luar itu, bisa digunakan untuk berinteraksi secara sosial. Seseorang bisa mendiskusikan berita yang sedang terjadi atau bertukar informasi satu sama lain lewat dialog langsung. Perolehan informasi semacam ini lebih sehat bagi kesehatan seseorang baik secara fisik maupun mental.
Menutup diri sepenuhnya juga bukanlah sesuatu yang baik karena dunia terus bergerak ke arah yang bahkan manusia sendiri belum tahu arahnya. Hal yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan dalam menggunakannya. Seseorang tetap perlu update, namun hanya untuk tetap sadar realitas dan terkoneksi secara sosial. Ketenangan diri, fungsi otak dan kesehatan mental lebih penting daripada sekadar selalu update.