Kita sedang berada di tengah-tengah era transformasi digital. Pasca pandemi, cara bekerja banyak berubah, salah satunya melalui konsep Work From Anywhere (WFA). Hampir semua hal kini dapat dijalankan di cloud, menggantikan infrastruktur on-premise.
Selain itu, banyak organisasi mulai beralih dari model CapEx (Capital Expenditure) menjadi OpEx (Operational Expenditure) agar lebih fleksibel dan efisien. Namun, muncul pertanyaan penting:
Bagaimana dengan lapisan keamanan? Apakah ada cara yang lebih baik untuk mengonsolidasikan semuanya, khususnya di era transformasi digital saat ini?
Jawabannya: Anda dapat mengonsolidasikan keamanan dan performa di Cloudflare.
Daripada berinvestasi pada banyak brand keamanan siber yang berbeda, Cloudflare menawarkan satu platform terpadu untuk perlindungan dan percepatan performa digital.
Cloudflare mendukung keamanan di berbagai lapisan:
Store / Compute Layer
Application Layer
Network Layer
Sehingga, perusahaan cukup berinvestasi pada satu brand cybersecurity, tanpa perlu repot menyesuaikan dengan banyak solusi yang berbeda.
Cloudflare menawarkan 3 solusi utama, yaitu:
Zero Trust Solution
Network Services
Application Services
Ketiga solusi ini dapat dikelola secara terpusat melalui Cloudflare One Dashboard.
Jaringan Global Cloudflare
Cloudflare membangun salah satu jaringan global terbesar, dengan lebih dari 300+ data center di seluruh dunia, termasuk di Jakarta. Dengan infrastruktur ini, Cloudflare mampu menyerap trafik dalam jumlah sangat besar, melindungi dari serangan Distributed Denial of Service (DDoS), dan mengoptimalkan pengalaman pengguna dengan latensi rendah.
Selain itu, Cloudflare juga berkomitmen mendukung inisiatif digital global, termasuk AI deployment berbasis Nvidia GPU, yang dapat dijalankan di seluruh jaringan Cloudflare.
Kekuatan Anycast
Salah satu keunggulan Cloudflare adalah teknologi Anycast.
Anycast adalah metode routing jaringan di mana permintaan (request) pengguna diarahkan ke data center terdekat yang memiliki kapasitas memproses trafik secara efisien. Teknologi ini membuat jaringan Cloudflare tetap resilien, meskipun menghadapi volume trafik tinggi, kemacetan jaringan, ataupun serangan DDoS.
Serangan DDoS Terbesar di Dunia
Pada 23 September 2025,

