"Ada hari-hari di mana bangun tidur saja sudah terasa berat."
Inilah yang aku rasakan setiap hari selama beberapa bulan terakhir.
Bulan Des 2025, pas banget aku berkesempatan baca 1 buku dengan judul Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati .
Dan ini menjadi buku bacaan terakhir aku di tahun 2025, yang aku habiskan dalam waktu 2 hari saja. Buku nya tipis hanya 210 halaman saja. Tema nya pas banget dengan yang belakangan ini sedang aku alami, yaitu merasa kesepian, agak kehilangan tujuan dan lupa cara bersyukur dan menikmati hidup. Cerita nya unik tentang tokoh utama namanya Ale (merupakan refleksi diri kita) yang di gambarkan sebagai seorang cowok, pekerja kantoran menjadi Auditor di Jakarta, hidup di apartemen, usia 37 tahun, tubuhnya besar, gendut, bungkuk, hitam legam dan berbau badan tidak sedap. Dimana ia sedang berada di titik terendah hidupnya dan berniat mengakhiri hidup. Namun sebelum melakukannya, ia memutuskan untuk menikmati satu hal sederhana terakhir: seporsi mie ayam.
Petualangannya seru banget semenjak berencana makan mie ayam Bang Jo.
Mulai dari ketemu bang Jo yang jadi almarhum, dan di berikan tutorial mengurus orang mati.
Ketemu penjahat kelas kakap pengedar obat terlarang.
Namun uniknya, semua perjalanan Ale menjadi lebih menyenangkan di awali dengan rasa "diterima" oleh sang penjahat kelas kakap dan di lingkungan nya yang cukup mengerikan.
Alias "memanusiakan manusia".
Dalam chapter ini kita di ajarkan untuk melihat sisi baik dari seorang yang paling jahat sekalipun, mereka juga manusia dan ada sisi kemanusiaannya.
Lalu bertemu dengan PSK kelas bawah yg usia 37 tahun, dimana di sini Ale di ajarkan untuk : Berkembangbaiklah sebelum berkembangbiak.
Dalam chapter ini kita di ajarkan untuk jika belum bisa bahagia saat sendiri, jangan limpahkan tugas itu kepada orang lain, apalagi orang yang kita cintai
Lalu chapter tentang kue hijau pandan, ini menjadi chapter favorit aku, karena mendeskripsikan "How God works in unique way".
