Buku Wanita dari Titik Nol ditulis oleh Nawal El Saadawi pada tahun 1974. Kisah ini diceritakan melalui sudut pandang seorang jurnalis sekaligus dokter, Nawal El Saadawi, yang berusaha keras untuk mewawancarai seorang narapidana bernama Firdaus di Penjara Qanatir, Kairo, Mesir. Firdaus dijatuhi hukuman mati karena telah membunuh seorang germo laki-laki.
Firdaus digambarkan sebagai korban dari tumpang tindih kekuasaan laki-laki dalam hidupnya: ayah, paman, suami, germo, bahkan hingga lembaga negara. Secara pribadi, buku ini terasa kontroversial karena berisi kritik tajam terhadap kemunafikan sosial, kekerasan, pelecehan seksual, serta Betapa bejatnya perlakuan sebagian laki-laki terhadap perempuan pada masa itu.
Salah satu bagian yang sangat kuat adalah ketika Firdaus menceritakan tentang pamannya, seorang tokoh agama yang dihormati, namun pernah melecehkannya dan melakukan kekerasan. Ia berkata:
“Saya katakan bahwa Paman adalah seorang Syeikh yang terhormat, terpelajar dalam hal agama, dan karena itu tidak mungkin memiliki kebiasaan memukuli istrinya. Dia menjawab bahwa justru laki-laki yang memahami agama itulah yang suka memukul istrinya. Aturan agama mengizinkan untuk melakukan itu. Seorang istri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya ialah kepatuhan yang sempurna.” (hal. 70)
Kutipan ini sangat kuat dalam menggambarkan kemunafikan orang-orang yang tampak suci, namun sebenarnya menyalahgunakan kekuasaan. Pada masa itu, tidak banyak perempuan yang berani menyuarakan kritik sefrontal ini.
Penderitaan Firdaus berlanjut ketika pada usia 19 tahun ia dipaksa menikah dengan Syeikh Mahmoud demi alasan ekonomi dan pendidikan. Suaminya adalah seorang laki-laki tua berusia lebih dari 60 tahun, digambarkan dengan kondisi fisik yang menjijikkan dan kebiasaan yang sangat kikir. Ia juga sering memukuli Firdaus, bahkan karena hal kecil seperti sisa makanan. (hal. 60–70)
Tidak tahan dengan kekerasan tersebut, Firdaus akhirnya melarikan diri. Ia kemudian bertemu Bayoumi, seorang laki-laki yang awalnya terlihat menolongnya. Namun, hubungan ini kembali diwarnai kekerasan dan pelecehan, terutama ketika Firdaus menyatakan keinginannya untuk bekerja dan hidup mandiri.
Setelah berhasil melarikan diri dari Bayoumi, Firdaus bertemu dengan Sharifa. Tokoh ini menjadi titik balik penting dalam hidupnya, karena Sharifa memperkenalkannya pada dunia prostitusi dan mengajarkan konsep harga diri dalam perspektif kekuasaan ekonomi. Salah satu nasihat Sharifa yang sangat berpengaruh adalah:
