Jika berkenan dengarkanlah ceritaku, Tuan
Berjudul 'Bungaku'
"Lagi-lagi, namaku disebut"
Begitulah mungkin keluh kesah salah satu bunga yang ada di kebunku
Seandainya ia bisa mengungkapkan perasaannya
Berisik!!
Bungaku sempat bertuan, Tuan
Seseorang berkunjung
Mengaguminya
-berkali-kali
Ia menyampaikan ingin turut merawat bunga tersebut.
Saat itu, aku percayakan bunga itu padanya.
Sayangnya, tidak berselang lama
Orang itu mengembalikan bunga itu padaku
Aku tidak tahu banyak tentang apa yang membuatnya mengembalikan bunga yang dulu amat ia kagumi itu
Lelah katanya,
Sebuah kata yang sarat makna, namun tidak cukup menjelaskan apapun
Meskipun begitu,
Aku tidak banyak bertanya, Tuan
Aku tidak menuntut orang yang memang sudah tidak menginginkan bungaku
Daripada bungaku mati mengering atau membusuk di tangan yang setengah hati
Lebih baik aku rawat sendiri dengan hatiku yang penuh
Belakangan, bungaku kembali disebut-sebut olehnya
Si pengunjung lawas itu
Bungaku digemakan dan diceritakan kepada orang-orang di sekitarnya
Sepertinya, bungaku masih menjadi bayang-bayang dalam hidupnya
Menandakan masih ada yang belum selesai pada dirinya, sekalipun tangannya sendiri yang telah melepaskan
Kuceritakan padamu Tuan
Mungkin dahulu bungaku belum sepenuhnya mekar
Penuh duri dan perlu perawatan khusus
Kini, ketika bungaku telah tumbuh dengan cara terbaiknya, mengapa justru muncul terlalu banyak gema yang mengganggu
Terlalu berisik untuk sesuatu yang seharusnya telah selesai.
Kini, bungaku telah tumbuh dengan caranya sendiri.
Ia kembali mekar tanpa berisik dan tenang tanpa haus pengakuan
Segala gema dari masa itu seharusnya berhenti disana
Cukup dikenang, tidak perlu disuarakan
Disini, di kebunku, bungaku akan terus hidup dan dirawat sepenuh hati
jauh dari kebisingan tangan-tangan yang pernah memilih melepaskan
Begitulah cerita dariku, Tuan
Semoga berkenan.