Jadi apa?
Apa yang membuatku mampu berdialog dengan Rabb-ku lebih lama dari biasanya?
Apa yang membuat sujudku terasa lebih nikmat?
Apa yang membuat tangisku pecah ketika menghadap pada-Nya?
Bukankan sejauh ini jawabannya adalah, kesedihan
Akhirnya aku datang dan mengajak Rabb-ku berdialog
Aku bertanya mengapa kesedihan ini harus ada
Aku meminta dalam tangisku yang paling tulus
Aku baru kembali,
setelah sekian lama lupa untuk berdialog dengan-Nya di masa bahagiaku
Mungkin inilah jawaban mengapa Rabb-ku kesedihan harus ada
Karna Ia tahu hanya dengan cara inilah aku kembali padanya
Atas hal ini, aku berpikir demikian
Aku tidak akan terus-terusan membuat kesedihan sebagai satu-satunya caraku untuk kembali
Aku akan berusaha menambah porsi waktuku untuk berdialog dengan-Nya
Berusaha menangis dalam syukur
Berusaha menjadikan bahagiaku sebagai bahan percakapanku dengan-Nya
Semoga kelak Tuhan tahu bahwa tanpa kesedihan sekalipun aku masih tahu jalan untuk kembali pada-Nya
Semoga tidak terlalu banyak kesedihan yang Ia titipkan
Seandainya kesedihan itu tetap ada, setidaknya kesedihan itu tidak datang dari rasa bersalah karena telah berjalan terlalu jauh dari-Nya