Amba, novel setebal lima ratus tujuh puluh halaman ini masih belum cukup mampu membuatku merasa puas, rasa haus masih dapat kurasakan atas keingintahuanku terhadap pikiran dan sikap Amba serta Bhisma.
Benarkah bahwa buku ini disebut sebagai salah satu karya terbaik dari Indonesia setelah Tetralogi Pulau Buru? Entahlah, yang jelas buku ini membuatku banyak berpikir, bertanya dan berkhayal.
Novel ini mengambil latar belakang salah satu peristiwa sejarah Indonesia yang tidak pernah mengenal kata usai untuk dibahas, peristiwa G30S. Segala riuh yang berujung pada kesewenangan di masa itu menjadi latar yang menjanjikan ironi. Selain itu, novel ini memberika premis yang menarik. Ceritanya seakan menantang kekuatan nama-nama besar, seolah tidak mengenal segan untuk menguji seberapa kuat nama-nama ini membawa takdir mereka masing masing.
Amba.
Bhisma.
Salwa.
Bagi penikmat Epos Mahabharata, nama-nama ini bukan lagi suatu hal yang asing. Bhisma dengan sumpahnya yang mengawali sebuah kisah besar akan tunduk pada Amba di akhir hidupnya, demikianlah Amba menjadi takdir untuk mengakhiri kisah besar tersebut.
Novel karya Laksmi Pamuntjak ini menggabungkan dua hal itu selayaknya tragedi, penuh ironi, penuh pengorbanan dan penuh pertumpahan darah.
Novel ini dibuka dengan cerita pengorbanan seorang wanita. Wanita yang tidak memiliki pilihan lain selain terus mencintai laki-laki yang direnggut, secara semena-mena oleh negara, darinya. Wanita yang seolah telah menerima cinta dan kasih yang begitu besar dari seorang laki-laki sampai ia juga rela memberikan cinta yang sedemikian besar.

Bukankah hal semacam itu yang selayaknya mendapatkan pengorbanan sebesar yang dilakukan Amba?
Kalian harus membacanya sendiri untuk menjawab pertanyaan ini. Kisah akan dilanjutkan dengan cerita mengenai keluarga Amba, bagaimana latar belakang orang tua Amba yang sedikit banyak mempengaruhi diri Amba, sampai kisah pertemuan Amba dengan Salwa lalu Bhisma.
Pembentukan jati diri seorang wanita dijelaskan dengan cukup kuat di Novel ini. Sebagai sulung dari 3 bersaudari, ia sadar bahwa adik-adiknya lebih unggul ikhwal kecantikan. Amba memiliki pandangannya sendiri tentang arti sebuah kecantikan. Bagi Amba jelas bahwa kecantikan bukanlah jalan menuju bahagia. Kecantikan seperti 2 sisi koin, di satu sisi sebuah anugerah dan pemberi hidup yang menyanjung, di sisi lain pembawa mala, terkutuk dan menakutkan.
